Pegunungan Kehilangan "Apotek" Alaminya Tanaman Obat Terancam Punah


Gambar: Salah satu tumbuhan langka pegunungan Eurycoma longifolia (pasak bumi) 
Sumber: Pinterest
 

Tanaman obat pegunungan Indonesia seperti pasak bumi dan akar kuning kian terancam punah akibat eksploitasi berlebihan dan krisis iklim. Pemerintah didesak segera menetapkan kawasan konservasi untuk melindungi warisan hayati ini.

Indonesia dikenal sebagai surga biodiversitas, terutama pada wilayah pegunungan yang menyimpan ribuan jenis tanaman obat. Namun, laporan terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan bahwa banyak tanaman langka seperti Eurycoma longifolia (pasak bumi) dan Fibraurea tinctoria (akar kuning) kini masuk kategori terancam akibat eksploitasi berlebihan serta perubahan iklim ekstrem.

Menurut data Kementerian Kesehatan RI tahun 2024, dari sekitar 28.000 spesies tanaman di Indonesia, lebih dari 2.800 tergolong sebagai tanaman obat. Namun, hanya 21 yang berhasil dikembangkan menjadi fitofarmaka. Sisanya banyak yang hilang sebelum sempat diteliti lebih lanjut.

Tanaman seperti pasak bumi, yang umum tumbuh di lereng pegunungan Kalimantan dan Sumatra, kini diburu besar-besaran untuk kebutuhan suplemen pria. Begitu pula akar kuning, yang digunakan sebagai obat demam dan gangguan liver, kini sulit ditemukan di alam liar karena tingginya permintaan pasar dan minimnya penanaman kembali.

“Eksploitasi liar dan minimnya perlindungan membuat siklus regenerasi tanaman ini terganggu. Jika dibiarkan, kita bisa kehilangan mereka dalam satu dekade ke depan,” ujar Taruna Ikrar, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dalam pernyataan di Surabaya, 25 Februari 2025, dikutip dari kumparan.com.

Tak hanya perburuan, krisis iklim juga memperparah situasi. Suhu yang semakin tinggi, perubahan pola curah hujan, dan bencana hidrometeorologi menyebabkan tanaman tidak dapat beradaptasi dengan cepat di habitat aslinya. Di hutan Pegunungan Muller, Kalimantan, pasak bumi tercatat menurun populasinya hingga 40% dalam lima tahun terakhir (LIPI, 2023).

Pemerhati lingkungan dan akademisi mendesak pemerintah segera mengeluarkan regulasi konservasi berbasis kawasan dan mendorong budidaya tanaman obat secara berkelanjutan.

“Kalau tidak dilindungi sekarang, pengobatan tradisional berbasis hayati akan tinggal sejarah,” kata Dr. Siti Nurhayati, peneliti etnobotani BRIN, 3 Mei 2025.

Dengan cepatnya laju kehilangan ini, konservasi dan pelestarian tanaman obat di kawasan pegunungan harus menjadi prioritas nasional demi menjaga warisan budaya dan kesehatan masyarakat Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INDOFEST 2025 Kembali Digelar: Festival Outdoor Terbesar Asia Tenggara Hadirkan Friendly Run dan Konser Musik

Amfibi Outdoor: Solusi Sewa Peralatan Mendaki Lengkap dan Terjangkau

Kemacetan di Jalur Pendakian Gunung Prau Via Patakbanteng Saat Libur Panjang Waisak 2025