Sampah Menumpuk, Kesadaran Pendaki Masih Rendah
Gunung-gunung Indonesia, simbol keindahan dan ketangguhan alam, kini mulai kelelahan. Eksploitasi berlebihan oleh pendaki dan minimnya kesadaran ekologis membuat alam yang dulu teduh kini merintih pelan namun pasti.
Gambar: Tumpukan Sampah
Sumber: superlive.id
Gunung Rinjani, salah satu destinasi pendakian paling populer di Indonesia, kini menghadapi krisis lingkungan yang mengkhawatirkan. Sepanjang tahun 2024, tercatat sebanyak 40,8 ton sampah ditinggalkan pendaki di kawasan taman nasional, menurut data dari Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) (detik.com, 23 Mei 2025).
Sampah yang paling banyak ditemukan berupa botol plastik, kemasan makanan instan, serta kantong plastik sekali pakai. Kondisi ini tak hanya merusak estetika alam, tetapi juga mengganggu ekosistem gunung, mulai dari satwa liar hingga sumber air alami di kawasan tersebut.
Menanggapi kondisi tersebut, TNGR resmi menerapkan kebijakan Zero Waste Hiking pada April 2025. Pendaki kini dilarang membawa plastik sekali pakai dan diwajibkan membawa kembali seluruh sampah ke pos registrasi sebagai bukti tanggung jawab. Pendaki yang melanggar akan dikenakan sanksi administratif hingga masuk daftar hitam.
“Tahun 2025, kami melakukan zero waste agar tidak ada lagi potensi sampah yang diangkut ke atas (Gunung Rinjani),”— ujar Yarman, Kepala Balai TNGR, dikutip dari Antara News, 9 Mei 2025.
Namun, perubahan perilaku tak semudah membuat peraturan. Pada bulan pertama penerapan program, sebanyak 52 pendaki telah masuk daftar hitam karena gagal membawa turun kembali sampah mereka. Padahal, dalam proses registrasi, semua pendaki telah menandatangani surat pernyataan menjaga kebersihan dan mengikuti peraturan.
“Jumlah pendaki yang di-blacklist sebanyak 52 orang, penyebab di-blacklist-nya karena tak bawa turun sampah,”jelas Budi Soesmardi, Kepala Pengendali Ekosistem Hutan TNGR, (Antara News, 24 Mei 2025).
Situasi ini menggambarkan ironi besar dalam aktivitas pendakian gunung: tempat yang seharusnya menjadi ruang belajar mencintai alam justru menjadi lokasi perusakan masif akibat ketidaksadaran kolektif. Tidak hanya Rinjani, kondisi serupa juga mulai terpantau di Gunung Gede Pangrango, Gunung Prau, dan Semeru.
Menurut data relawan lingkungan, Gunung Gede Pangrango menghasilkan lebih dari 2 ton sampah per musim pendakian, sebagian besar ditinggalkan di pos dan jalur puncak. Jika pola ini berlanjut, kerusakan permanen terhadap flora dan fauna pegunungan hanya tinggal menunggu waktu.
Gunung bukan hanya tujuan rekreasi, tetapi juga ekosistem yang kompleks dan rentan. Melindunginya adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas petugas taman nasional. Tanpa perubahan sikap pendaki, gunung-gunung Indonesia akan terus menjerit dalam diam, menunggu saat tubuhnya benar-benar tak mampu lagi menopang beban keserakahan manusia.
Komentar
Posting Komentar