Pusat Primata Ragunan Lestarikan Primata Pegunungan: Siamang dan Lutung Budeng Jadi Sorotan

Gambar 1: Pintu Masuk Pusat Primata Schmutzer

Di tengah hiruk pikuk Ibu Kota, dua primata langka penghuni hutan pegunungan menjadi daya tarik utama di Pusat Primata Taman Margasatwa Ragunan. Siamang dan Lutung Budeng, yang terancam punah di habitat aslinya, kini hidup aman dalam kawasan konservasi seluas 13 hektare.

Taman Margasatwa Ragunan terus memperkuat perannya sebagai lembaga konservasi satwa liar, terutama spesies primata endemik Indonesia. Dalam kunjungan ke Pusat Primata Ragunan, dua spesies penting yakni Siamang (Symphalangus syndactylus) dan Lutung Budeng (Trachypithecus auratus) menjadi perhatian utama para pengunjung.

Gambar 2: Foto atas Siamang dan bawah Lutung Budeng

Siamang dikenal sebagai primata terbesar dari keluarga owa yang hidup di hutan pegunungan Sumatra dan Semenanjung Malaysia. Suara nyaringnya yang khas dapat terdengar hingga radius satu kilometer, menjadikannya penanda alami hutan pegunungan. Sementara itu, Lutung Budeng, dengan bulu kehitaman atau oranye keemasan, merupakan satwa endemik yang mendiami hutan-hutan pegunungan di Pulau Jawa dan Bali.

“Kami fokus pada edukasi dan pelestarian. Siamang dan lutung merupakan primata penting dari ekosistem pegunungan yang kini populasinya terus menurun akibat pembalakan liar dan perburuan,” ujar pak Rendi, staf edukasi Pusat Primata Ragunan, saat ditemui di lokasi.

Kedua primata tersebut kini berstatus terancam punah menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature). Taman Margasatwa Ragunan melalui fasilitas konservasi dan pendekatan edukatif berusaha menyelamatkan serta memperkenalkan spesies ini kepada masyarakat luas.

Pusat Primata Ragunan sendiri memiliki sekitar 50 spesies primata dari Indonesia maupun luar negeri, termasuk spesies lain dari wilayah pegunungan seperti Kukang dan Owa Jawa. Ragunan menjadi satu dari sedikit kebun binatang di Asia Tenggara yang memiliki pusat primata khusus dan mendukung penelitian serta pemuliaan satwa.

Dengan meningkatnya kunjungan masyarakat, pengelola berharap kesadaran terhadap pentingnya pelestarian satwa semakin tinggi. “Melihat langsung primata langka seperti ini di tengah kota memberi pesan kuat bahwa kita harus menjaga alam, bahkan dari kota,” tambah pak Rendi.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

INDOFEST 2025 Kembali Digelar: Festival Outdoor Terbesar Asia Tenggara Hadirkan Friendly Run dan Konser Musik

Amfibi Outdoor: Solusi Sewa Peralatan Mendaki Lengkap dan Terjangkau

Kemacetan di Jalur Pendakian Gunung Prau Via Patakbanteng Saat Libur Panjang Waisak 2025