Kisah Mistis Gunung Guntur: Pendaki Asal Jakarta Alami Gangguan Tak Kasat Mata
Seorang pendaki asal
Jakarta mengalami gangguan mistis saat mendaki Gunung Guntur, Garut, Jawa
Barat, pada Januari 2025. Gunung yang dikenal dengan pemandangan indah ini juga
diyakini masyarakat sekitar sebagai tempat keramat yang dijaga makhluk halus.
Kejadian ganjil berupa suara langkah kaki dan gamelan yang dialami Zaini
memperkuat kepercayaan adat setempat tentang pentingnya menjaga sikap dan etika
selama berada di alam.
Gunung Guntur, salah satu
gunung berapi aktif di Kabupaten Garut, Jawa Barat, kembali menjadi sorotan
setelah seorang pendaki asal Jakarta mengalami kejadian mistis saat mendaki
gunung tersebut pada Januari 2025. Gunung yang menjulang setinggi 2.249 meter
di atas permukaan laut ini terkenal dengan jalur pendakian yang curam dan
terbuka, serta keindahan pemandangan sunrise di puncaknya. Namun, bagi
masyarakat lokal, Gunung Guntur juga diyakini sebagai kawasan yang diselimuti
aura mistis dan kerap dikaitkan dengan cerita-cerita supranatural.
Bagi masyarakat adat di
sekitar Garut, Gunung Guntur bukan hanya kawasan alam biasa, tetapi juga
dipercaya sebagai tempat keramat yang dijaga oleh makhluk halus. Kepercayaan
ini diwariskan turun-temurun, terutama di wilayah Kampung Dukuh dan sekitarnya.
Pendaki yang tidak menjaga sikap atau melanggar norma adat lokal diyakini bisa
mengalami gangguan atau “diperingatkan” oleh penghuni tak kasat mata.
“Kalau masuk ke wilayah
hutan atau gunung, harus permisi. Jangan sembarangan ngomong atau bertindak.
Itu sudah jadi aturan tak tertulis di sini,” ujar Asep (50), warga lokal yang
juga berprofesi sebagai porter pendakian.
Ia menjelaskan bahwa
masyarakat masih menjaga tradisi menghormati alam, seperti memberi sesajen
kecil, berdoa sebelum naik gunung, serta menjaga kebersihan dan sopan santun
saat berada di jalur pendakian.
Pengalaman mistis dialami
oleh Zaini (28), pendaki asal Jakarta yang telah menaklukkan enam gunung di
Pulau Jawa, termasuk Merbabu, Sindoro, Lawu, Gede, Prau, dan Gunung Guntur
sendiri. Dalam pendakiannya ke Gunung Guntur akhir tahun lalu, Zaini memilih untuk
mendaki seorang diri melalui jalur Citiis.
“Saya mulai naik dari
basecamp sekitar pukul 11 siang. Cuaca awalnya cerah. Tapi setelah masuk pos
tiga, kabut turun tebal dan suasana berubah drastis,” ungkap Zaini, Senin 21/04/2025.
Sekitar pukul lima sore,
ia mulai merasakan keanehan. Suara langkah kaki terdengar dari belakang,
padahal tidak ada siapa pun di sekitar. Tidak lama berselang, suara gamelan
lirih terdengar dari arah semak-semak. Zaini mengaku yakin dirinya sedang
sendirian di jalur tersebut.
“Suaranya jelas, tapi
jauh, seperti dari dalam hutan. Saya pikir itu suara dari rombongan lain. Tapi
besoknya, saya tanya ke pendaki lain yang baru naik malam itu—nggak ada yang
dengar apa-apa, apalagi bawa alat musik,” katanya.
Meski tidak mengalami
cedera fisik, pengalaman tersebut meninggalkan kesan kuat. Ia menyatakan baru
kali ini mengalami hal seperti itu selama bertahun-tahun mendaki.
Zaini kini mengaku lebih
berhati-hati dalam setiap pendakian yang ia lakukan. Selain mempersiapkan
logistik dan fisik, ia juga menekankan pentingnya menjaga niat dan perilaku
selama berada di alam.
“Sekarang saya selalu
berdoa dulu sebelum masuk gunung, menjaga sikap, dan tidak mengucapkan hal
sembarangan. Gunung bukan tempat untuk gagah-gagahan,” ujarnya.
Gunung Guntur masih
menjadi salah satu tujuan pendakian favorit, terutama karena lokasinya yang
dekat dari Bandung dan Jakarta. Namun, kisah-kisah mistis seperti ini menjadi
pengingat bahwa gunung tidak hanya menyimpan keindahan, tetapi juga memerlukan
penghormatan—baik secara fisik maupun spiritual.



Komentar
Posting Komentar