Gunung Carstensz Pyramid: Jalur Pendakian Paling Menantang di Indonesia

Gambar 1 : Kondisi Pendakian Gunung Cartensz Pyramid
Sumber : www.exploredesa.com
Gunung Carstensz Pyramid
di Papua dikenal sebagai gunung dengan jalur pendakian paling ekstrem di
Indonesia. Dengan medan tebing curam yang mengharuskan teknik panjat, cuaca
yang tidak menentu, serta akses yang sulit, gunung ini hanya bisa ditaklukkan
oleh pendaki berpengalaman. Baru-baru ini, dua pendaki meninggal dunia saat
mencoba mencapai puncak dalam sebuah ekspedisi yang juga diikuti oleh musisi
dan penulis, Fiersa Besari.
Puncak Jaya atau
Carstensz Pyramid, gunung tertinggi di Indonesia yang berlokasi di Papua. Ketinggiannya
mencapai 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl), bukanlah gunung yang bisa
didaki sembarangan. Gunung ini menjadi satu-satunya puncak di
Indonesia yang memiliki es abadi, meskipun saat ini mengalami penyusutan akibat
perubahan iklim. Carstensz Pyramid merupakan bagian dari Pegunungan Sudirman
dan terletak di dalam kawasan Taman Nasional Lorentz yang telah ditetapkan
sebagai situs Warisan Dunia UNESCO.
Berbeda dengan
gunung-gunung lain di Indonesia yang jalurnya terdiri dari tanah dan batu,
Carstensz didominasi oleh tebing vertikal yang mengharuskan pendaki menggunakan
teknik rock climbing. Pendaki tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, tetapi
juga keterampilan panjat tebing dan peralatan khusus seperti tali, harness, dan
helm.
Selain medan yang berat,
cuaca di Carstensz juga menjadi tantangan tersendiri. Suhu di puncak bisa
mencapai -5°C hingga -10°C, bahkan lebih dingin ketika badai salju tiba-tiba
datang. Dalam hitungan jam, langit cerah bisa berubah menjadi hujan es yang membuat
perjalanan menjadi lebih berbahaya. Tidak sedikit pendaki yang mengalami
hipotermia karena kurangnya persiapan menghadapi kondisi ekstrem ini.
Akses menuju Carstensz
pun tergolong sulit dan mahal. Tidak ada jalur trekking yang mudah, sehingga
pendaki harus menempuh perjalanan panjang melalui hutan Papua selama
berhari-hari atau menyewa helikopter untuk mencapai basecamp. Biaya pendakian
ke gunung ini juga sangat tinggi, bisa mencapai Rp200 juta hingga Rp500 juta
per orang, menjadikannya salah satu gunung paling eksklusif di dunia.
Pendakian Carstensz
Pyramid kembali menelan korban jiwa. Pada 28 Februari 2025, dua pendaki wanita,
Lilie Wijayanti Poegiono (59) dan Elsa Laksono (60), meninggal dunia saat turun
dari puncak gunung. Kejadian tragis ini terjadi dalam ekspedisi yang juga diikuti
oleh Fiersa Besari.
![]() |
| Gambar 2 : Video Fiersa Bersari Setelah Melakukan Ekspedisi Gunung Cartensz Pyramid Sumber : Dokumentasi Pribadi |
Lilie Wijayanti Poegiono
diduga mengalami hipotermia setelah turun dari puncak pada 1 Maret 2025.
Kondisi tubuhnya semakin melemah akibat suhu ekstrem dan kelelahan. Sementara
Elsa Laksono diduga mengalami Acute Mountain Sickness (AMS) atau penyakit ketinggian,
yang membuatnya kehilangan kesadaran dalam perjalanan turun. Tim evakuasi
segera berusaha membawa mereka ke RSUD Mimika, tetapi nyawa keduanya tidak
tertolong.
Dalam unggahan di media
sosialnya, Fiersa Besari mengungkapkan rasa dukanya atas kehilangan dua rekan
pendakinya. Ia menulis, "Kami pergi bersama-sama, berbagi tawa dan lelah
di jalur yang berat. Namun, pulang dengan hati yang berat. Dua sahabat kami
berpulang di tempat yang mereka cintai. Pendakian ini bukan hanya tentang
mencapai puncak, tetapi juga tentang menghargai setiap langkah."
Tragedi ini kembali
mengingatkan bahwa mendaki bukan sekadar mencapai puncak, tetapi juga tentang
bagaimana mengenali batas diri dan mempersiapkan segala kemungkinan. Carstensz
Pyramid adalah gunung yang tidak bisa dianggap remeh. Persiapan fisik, mental,
serta pemahaman tentang bahaya yang ada menjadi hal mutlak sebelum menaklukkan
gunung ini.
Meninggalnya dua pendaki
di Carstensz Pyramid menjadi pengingat bagi komunitas pendaki bahwa keselamatan
harus selalu menjadi prioritas utama. Persiapan yang matang, mulai dari latihan
fisik, aklimatisasi terhadap ketinggian, serta pemahaman terhadap gejala AMS
dan hipotermia, adalah hal yang tidak boleh diabaikan.
Gunung akan selalu
berdiri kokoh, tetapi pendaki harus tahu kapan harus melanjutkan dan kapan
harus berhenti. Seperti yang dikatakan Fiersa Besari, "Gunung akan tetap
berdiri megah, tapi kita yang harus tahu kapan harus berhenti dan kapan harus
melanjutkan."
Tragedi ini menjadi
pelajaran berharga bagi siapa pun yang bercita-cita menaklukkan Carstensz
Pyramid bahwa pendakian bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi tentang
bagaimana pulang dengan selamat.

Komentar
Posting Komentar